Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juli 2013

Diberi Hormon Maskulin Gairah Tetap Feminim


"Kebetulan pamannya ada yang seorang dokter, sehingga berusaha ”menormalkan” kondisi tubuhnya. Meski sudah diberi hormon tersebut, tetap saja tidak berubah dan suaranya sama dengan suara wanita."


Perubahan status dari laki-laki menjadi perempuan masih mengundang kontroversi. Meski pengadilan mengabulkan, ada pihak-pihak tertentu yang tidak sependapat. Namun, para pelaku merasa nyaman dengan status barunya sebagai perempuan. Berikut laporannya.

MASIH ingat dengan Paula Wiwik Proboziwi, orang pertama yang melakukan operasi ganti kelamin di Jawa Tengah? Ya, dia kini merupakan salah satu PNS di lingkungan Pemkot Pekalongan. Kemudian wanita yang saat laki-laki bernama Paulus Prabowo tersebut juga merupakan penata rias kondang di Kota Batik.


Ketika ditanya soal langkah Agus Wardoyo asal Batang yang berubah menjadi seorang wanita bernama Nadia Ilmira Arkadea, pemilik Salon Ranti yang berlokasi di Jalan Kusuma Bangsa, Pekalongan Utara itu mengaku sangat mendukung. Bahkan Mbak Wiwik, begitu dia sering disapa, mengatakan operasi penyesuaian yang dilakukan Arkadea atau Dea sangat tepat. ”Saya tahu persis kenapa Dea melakukan hal itu, karena saya juga pernah mengalaminya,” tandasnya.

Dia lalu menceritakan pengalamannya kenapa sampai bisa mengubah status menjadi seorang wanita. Sejak dilahirkan di Sleman, 13 Maret 1961, dirinya memang laki-laki. Namun setelah besar, ternyata perkembangannya tidak sesuai dengan yang dinginkan orang tuanya. Naluri kewanitaannya atau psikis menjadi perempuan lebih tinggi, sampai 76 persen sehingga tingkah lakunya juga seperti wanita.

Tahun 1975, waktu itu masih duduk dibangku SMP, pernah diberi hormon laki-laki. Kebetulan pamannya ada yang seorang dokter, sehingga berusaha ”menormalkan” kondisi tubuhnya. Meski sudah diberi hormon tersebut, tetap saja tidak berubah dan suaranya sama dengan suara wanita.

Tahun 1979, Mbak Wiwik pindah ke Kota Pekalongan dan 1980 menjadi PNS di kota itu yang mendaftar dengan menggunakan ijazah SMA. Karena sifat kewanitaannya sangat menonjol, maka selama menjadi PNS ketika masuk kantor mamakai gaun wanita. ”Kebetulan pimpinan saya, waktu itu Pak Wardoyo memahami, sehingga memerintahkan saya supaya saat masuk kerja memakai rok,” tandasnya.

Lebih kurang 10 tahun kemudian, dia bertekad melakukan operasi penyesuaian kelamin. Untuk melakukan operasi seperti itu memang butuh ”perjuangan” cukup berat. Pasalnya, wanita yang dinikahi Martin Van Zanwyck asal Belanda tahun 1996 itu harus izin kepada orang tua. Kemudian juga harus siap menyesuaikan diri dengan lingkungan, terutama masyarakat.

”Saya sangat bersyukur, karena orang tua sangat setuju dengan tekad saya melakukan operasi,” tandasnya lalu mengatakan operasi berlangsung pada tahun 1989 di RSUP Dr Kariadi, Semarang dengan biaya Rp 47 Juta.

Setelah operasi berlangsung lancar, lalu mengajukan permohonan untuk merubah nama yang semula Paulus Prabowo menjadi Paula Wiwik Proboziwi. Setahun kemudian, permohonannya dikabulkan oleh Pengadilan Negeri Pekalongan.

Meski sudah berganti kelamin dan nama, Wiwik tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat. ”Kami hanya bisa berusaha, namun semuanya tergantung masyarakat karena mereka yang menilai kami,” tandasnya.

Selanjutnya dijelaskan, apa yang dilakukan Dea untuk berubah kelamin alasannya juga seperti yang dialaminya. Psikis kewanitaannya lebih banyak, sehingga meskipun harus mengeluarkan biaya sangat besar namun tetap bertekat menjadi seorang wanita.
Dorongan dan Hujatan
Setelah status Agus Wardoyo (30) disetujui Pengadilan Negeri Batang menjadi perempuan dan namanya diubah menjadi Nadia Ilmira Arkadea pada 22 Desember 2009, tanggapan dari masyarakat bermunculan. Ada yang menghujat dan ada pula yang memberikan ucapan selamat sekaligus memberikan dorongan atas pilihan perubahan status kelamin itu.

”Kalau kita pikirkan hujatan itu, memang menyedihkan. Namun, tidak perlu memikirkan itu, toh banyak juga orang yang memberikan dorongan pada saya,” kata Dea kepada Suara Merdeka belum lama ini.

Menurut dia, semestinya orang harus berpikir, bahwa semua itu ditakdirkan oleh Tuhan. ”Saya secara fisik memang dilahirkan sebagai laki-laki. Namun, naluri dan perilaku saya selalu terdorong ingin seperti wanita. Bahkan ketika masih kecil pun, saya tidak senang bermain-main seperti kaum laki-laki. Sebaliknya, saya selalu ingin seperti wanita,” aku anak pasangan Bambang Sugianto dan Witen, warga Kalilangse, Kelurahan Gajahmungkur Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang itu.

Dia mengaku tidak dipengaruhi dan didorong oleh siapapun. Hanya, ketika dirinya masih kecil dan dalam pengawasan orang tua dan keluarga, sedapat mungkin mengikuti kemauan keluarga, meski sebenarnya menolak untuk mengikuti kegiatan layaknya laki-laki.

Dalam suatu hari, dia pernah dipaksa kakaknya untuk bermain layang-layang. Namun Dea tidak bisa memainkan layang-layang sampai akhirnya dimarahi kakaknya.

Beranjak dewasa, ia mulai berani mengambil sikap. Ketika dirinya duduk di kelas 3 SMK Pariwisata Semarang, dia setiap pulang sekolah langsung ganti pakaian wanita yang sudah disiapkan dari rumah. ”Saya merasa sreg kalau memakai pakaian wanita,” ujarnya.

Dia mengaku berganti pakaian di rumah teman gengnya. Mereka mengerti dengan kondisi dirinya, sehingga ikut merahasiakan perilakunya kepada teman-teman.

Sejak itu, keluarganya mulai mengetahui kalau dia ingin menjadi wanita. Awalnya orang tua tak mau menerima keinginan anaknya, namun melalui perjuangan panjang akhirnya keluarga tidak mempermasalahkan lagi. Bahkan, upaya untuk operasi kelamin di RS Dr Soetomo Surabaya pun disetujui setelah pemeriksaan awal di RSUP Dr Kariadi Semarang. ”Awal pemeriksaan, kami diperiksa kromosom,” akunya.

Setelah lulus SMK, dia berani berdandan dan memakai pakaian wanita secara terbuka. Meski demikian, dia selalu bingung ketika harus mengisi data administrasi mengenai jenis kelamin pada kegiatan tertentu. ”Selama ini, kami selalu mengisi jenis kelamin pria. Namun, beruntung, selama bekerja, status kelamin tak ditanyakan,” ungkapnya.

Dea kelahiran Semarang, 16 Agustus 1979 itu memang dilahirkan sebagai anak cerdas. Setelah lulus SMK, dia kursus Bahasa Inggris. Ketika melamar di perusahaan furniture milik Amerika di Jepara, setelah diuji komputer dan bahasa Inggris dia langsung diterima.

”Saya senang, karena pengusaha asing itu tidak melihat status saya dalam lamaran. Rupanya, orang asing tak meributkan masalah status kelamin. Sepanjang keterampilan dan pengetahuan memenuhi, langsung bisa diterima sebagai karyawan,” tuturnya.

Di Jepara, Dea mengaku tak betah, sehingga kembali ke Semarang untuk melamar ke perusahaan ekspor furnitur. Pengusaha asal Denmark pun menerimanya. Namun, di perusahaan ini, lingkungannya kurang mendukung dan status dirinya selalu dipertanyakan. ”Dari pada kerja dalam kondisi tak enak, lebih baik saya mundur,” ujarnya.

Selama bekerja di perusahaan, dia mengaku pernah menjalin cinta sebanyak tiga kali. Kini, dia mengaku belum memiliki pacar. Dea mengaku awalnya pacar juga tidak tahu jika dirinya lelaki yang sudah dioperasi. Namun, lama-kelamaan, dia mengaku terus terang. Karena sudah saling mencintai, pacaran tetap berlanjut. (Kuswandi, Moch Achid Nugroho, Trias Purwadi-60)


Perjuangan Vladimir

“Mengapa wanita boleh mengenakan celana panjang, sedangkan pria dianggap aneh jika mengenakan rok?”


Kineshma (CiriCara.com)– Pertanyaan tentang “mengapa wanita boleh mengenakan celana panjang, sedangkan pria dianggap aneh jika mengenakan rok?”, selalu menjadi pertanyaan yang tidak memiliki jawaban yang pasti. Rupanya, pertanyaan itu sangat diresapi oleh pria Rusia ini. Ia adalah Vladimir Fromin asal kota Kineshma. 



Pria 44 tahun ini nekat berjuang untuk mendapatkan hak bahwa pria juga boleh mengenakan rok ataupun gaun layaknya seorang wanita. Vladimir mengaku iri dengan orang-orang Skotlandia yang boleh mengenakan kilt/rok khas Skotlandia, dan juga orang-orang Yunani dan Roma kuno. Pada zaman dulu, mereka tidak mengenakan celana, melainkan sejenis rok. Akan tetapi, pria beristri ini bukannya mendapat dukungan dari ulah nekatnya itu, tapi malah mendapat masalah. Ia dikucilkan teman-teman dan keluarganya, bahkan sampai dikeluarkan dari universitas. 

Dulunya, Vladimir mengambil jurusan matematika di Universitas Ivanovo. Ia mulai merasa penasaran mengapa pria selalu dianggap aneh jika mengenakan rok, sedangkan wanita bebas memakai celana panjang atau jeans. Akhirnya, ia mulai memakai pakaian wanita setiap kali pergi ke kampusnya. Hingga suatu hari, seorang petugas kebersihan kampusnya, melihat ke arahnya dengan tatapan aneh saat melihat Vladimir mengenakan pakaian wanita. Vladimir merasa sangat marah, sehingga ia menanggalkan seluruh pakaiannya dan berjalan-jalan di sekitar asramanya sambil telanjang di depan petugas kebersihan tersebut. Kemudian, si petugas itu tidak terima dengan apa yang dilakukan Vladimir, ia melaporkan kejadian itu ke pihak kampus. Peristiwa itulah yang menyebabkan Vladimir dikeluarkan dari universitas tersebut. Oddity Central Selama 25 tahun memakai pakaian wanita menjadi masa-masa yang sulit bagi pria pengangguran ini. Ia sering menerima hinaan, cemooh dari orang-orang di sekitarnya, dan berbagai kekerasan verbal lainnya. Bukan hanya itu saja, apa yang dilakukan Vladimir, menimbulkan dampak buruk yang cukup berarti bagi kelangsungan hidupnya. Selain dikeluarkan dari universitas, dia juga tidak dapat masuk ke universitas lain di Rusia sebelum dia berpenampilan seperti pria pada umumnya. Demikian pula di dunia kerja, tidak ada perusahaan yang mau mempekerjakan seorang pria yang tidak mau mengenakan celana seperti pria normal. Vladimir hanya menggantungkan hidupnya dari hasil berkebunnya. 



Vladimir yang sekarang sudah memiliki lebih dari 30 pasang pakaian wanita, masih berharap bahwa suatu saat nanti, dirinya dapat mempelopori kebebasan pria untuk mengenakan rok/gaun wanita tanpa ada diskriminasi lagi. Vladimir mengatakan kepada Odditycentral.com bahwa di seluruh dunia ada ribuan pria yang setuju dan mendukung apa yang dilakukan Vladimir, namun mereka tidak berani untuk meniru apa yang dilakukannya. Jadi, Vladimir memakai rok bukan karena dia banci, gay, atau transgender, tapi karena ia menuntut keadilan bagi pria, yang dianggapnya harus memiliki hak yang sama dengan wanita, yaitu bebas untuk mengenakan rok sebagaimana wanita bebas mengenakan celana. 

Nadia Ilmira Arkadea (3)


Katanya pernah dipecat gara-gara ketahuan identitas aslinya?
Iya, pernah. Oleh sebab itu, saya selalu tertarik bekerja di perusahaan asing karena mereka lebih berfokus pada kemampuan dan kontribusi yang bisa kita berikan ketimbang urusan kertas-kertas. Selain itu, juga ada bagian di mana orang tidak terlalu tahu identitas saya.



Pernah, suatu ketika saya bekerja di sebuah perusahaan asing tetapi administrasinya dipegang orang lokal. Setelah kurang lebih setahun, saya mengikuti kontes kecantikan untuk waria tahun 2007 dan menang. Sekretaris bos saya tahu karena beritanya juga heboh. Saya kagum sama bos saya karena dia waktu itu hanya bilang, “Kamu bekerja dengan otak kamu, bukan dengan alat kelaminmu!” Tapi bagian administrasi berusaha mempersulit saya dengan urusan legal untuk membuat saya keluar.

Saat itu saya jadi trauma sekali mencari pekerjaan. Untungnya saya masih sering menyanyi di resepsi pernikahan atau acara-acara khusus. Suatu kali saya menyanyi di acara yang diadakan oleh sebuah LSM bernama Omah Tani. Gratis tak dibayar. Ternyata mereka tahu, saya punya jiwa militan untuk kaum marginal. Saya ditawari bergabung. Saat ini saya bekerja sebagai sekretaris eksekutif dan kami juga berusaha memberdayakan perempuan di daerah terpencil.

Punya saran untuk mereka yang bernasib sama dengan
Ini masalahnya. Kita hanya mengenal laki-laki dan perempuan. Tidak ada opsi untuk transeksual yang mewakili kaum waria. Jadi, orang-orang seperti saya harus memilih. Saya berani muncul di media juga untuk menunjukkan pada orang-orang seperti saya, seperti apa perjuangan saya supaya mereka juga mau berjuang demi kebahagiaan mereka. Saya ingin membela hak orang-orang yang terpinggirkan dan mengalami diskriminasi seperti kaum transeksual.

Bagaimana dengan keinginan untuk memiliki anak?
Sejak sebelum operasi, dokter sudah mengatakan, mereka bisa mengubah alat kelamin saya tapi tidak bisa membuat saya hamil. Jadi, saya sudah menerima itu. Banyak anak jalanan yang perlu ibu. Lebih baik kalau saya membantu mereka dengan cara adopsi.

Ada keinginan untuk menikah?
Bukannya tidak suka laki-laki tapi saat ini (hal) itu bukan prioritas saya. Masih banyak yang masih ingin saya lakukan. Sejak mengubah alat kelamin, saya belum pernah berpacaran.

Impian apa lagi yang ingin diraih?
Saya ingin terus bekerja di bidang saya untuk memperjuangkan nasib orang-orang yang terpinggirkan


(Tamat)

Nadia Ilmira Arkadea (2)



Tak pernah sedikit pun berusaha menjadi lelaki sejati?
Sejak kecil saya merasa seperti perempuan dan nyaman dengan itu. Ini masalah kenyamanan saja. Saya terganggu dengan alat kelamin saya.

Pernah mengalami diskriminasi seperti diolok-olok teman?
Saya, sih, enggak pernah aneh-aneh sebenarnya. Teman-teman juga enggak mendiskriminasikan saya. Tapi kalau perlakuan enggak enak, mungkin ada. Mereka suka bertanya. “Kenapa kamu laki-laki tapi suka bermain dengan perempuan? Kenapa suka bermain dengan permainan perempuan?” Cuma itu saja. Selebihnya, tidak ada yang sampai membuat saya sakit hati.

Kapan memutuskan untuk mengubah kelamin dan status menjadi perempuan?
Ini suatu yang alami. Saya merasa seperti perempuan, jadi saya melakukan apa yang perempuan lakukan. Jadi, saya merasa harus melakukan operasi ini. Ini masalah waktu. Sebenarnya itu proses. Contohnya kalau sakit, kita pasti periksa ke dokter. Nah, ini adalah bagian dari proses itu. Ada sesuatu yang lain dari saya dan harus saya konsultasikan pada ahli.
Saya datang ke RS Dr. Karyadi di Semarang untuk pemeriksaan awal, lalu kemudian dirujuk ke Surabaya. Saya melakukan pergantian kelamin di RS Dr Soetomo Surabaya dan Alhamdulillah operasi berjalan lancar.



Apa saja tahapan yang harus dilakukan?
Ada beberapa tes yang harus saya lewati. Yaitu tes psikologi, psikiatrik, obgyn, dan penyakin dalam. Itu mutlak dilakukan sebelum operasi penggantian kelamin.

Besar, ya, biaya operasi dan segala macamnya?
Soal biaya, relatif. Saya enggak ingat berapa lama saya menabung. Kalau ada uang lebih, saya tabung. Jadi, enggak terlalu berat buat saya. Nekat aja, sih, tapi Alhamdulillah semuanya lancar dan enggak sampai berhutang.

Dapat tantangan dari keluarga, kerabat, atau lingkungan sekitar?
Tidak pernah ada suatu diskusi dengan orangtua, karena saya pikir ini tabu. Sampai saya bermaksud untuk operasi, kami tidak pernah membicarakan ini. Tapi saya yakin mereka tahu dan selama mereka tidak melakukan penentangan yang berlebihan saya juga masih bisa menjaga ini. Untungnya orangtua saya berpikiran terbuka. Belakangan saya utarakan niat untuk operasi dan akhirnya mereka mendukung.

(Bersambung)

Nadia Ilmira Arkadea (1)


Kulitnya putih mulus, lekuk tubuhnya elok, wajahnya cantik. Siapa pun yang bertemu pasti tak menyangka, perempuan cantik bernama Nadia Ilmira Arkadea (30) dulunya pria bernama Agus Widoyo. Setelah mengubah kelaminnya, akhirnya keinginan Dea mengganti statusnya menjadi perempuan, dikabulkan Pengadilan Negeri Batang, Jawa Tengah. Berikut obrolan dengan Dea (Kamis, 24/12).

Bahagia dan lega ya, sekarang sudah mendapat ketetapan hukum?
Bahagia sekali. Akhirnya saya dapat pengakuan secara hukum. Ini tentunya akan memudahkan saya dalam mengurus hal-hal legal formal. Kalau ada sesuatu, saya tahu harus melapor ke mana, semisal kalau saya mendapat pelecehan seksual.

Bagaimana dengan tanggapan miring masyarakat terhadap transeksual?
Saya sering jengkel. Tidak mungkin, kan, saya menjelaskan ke masyarakat bahwa transeksual itu berbeda dengan waria. Transeksual itu muncul dari jiwa. Bahwa saya merasa tidak nyaman memiliki tubuh laki-laki. Kalau waria, kan, tidak. Dia masih bisa memfungsikan alat kelaminnya dengan baik. Dia tidak terganggu dengan alat kelamin prianya, sementara saya terganggu bahkan sampai membenci.
Secara psikis, saya memang tumbuh sebagai perempuan. Saya berprinsip, pertumbuhan psikis itu mempengaruhi pertumbuhan fisik. Kalau laki-laki biasanya main bola, saya enggak. Makanya kaki saya enggak besar. Atau biasanya laki-laki membawa air, saya tidak demikian sehingga tangan saya enggak berotot. Kalau waria, dia bisa jadi laki-laki di siang hari, lalu malam harinya jadi perempuan. Saya tidak seperti itu.
Dulu, waktu SMA, saya harus pakai celana panjang karena itu adalah regulasi. Hanya itu. Tapi kalau saya diberi pilihan, pakai celana atau rok, saya pasti pakai rok. Jadi, saya bukan laki-laki yang tiba-tiba berubah jadi perempuan. Semua ini proses yang panjang. 

Tidak gentar menghadapi pro dan kontra yang pastinya segera muncul?
Setelah banyak pemberitaan mengenai saya, saya sering mendapat caci maki atau SMS yang tidak sopan. Tadi, di bandara, ada ibu yang mendatangi dan memeluk saya sambil bilang, “I love you, Dea!” Tapi saya siap! Saya harus berani bicara untuk kepentingan orang-orang yang seperti saya. Saya tidak menyesal.

Sudah punya kiat untuk meng­hadapi semua masalah yang bakal timbul?
Saya enggak aneh-aneh. Mungkin banyak orang yang berpikiran buruk tentang waria karena perilaku waria yang tidak mengenakkan. Kalau saya, kan, enggak. Saya berpakaian seperti wanita sesuai dengan usianya. Saya juga enggak suka pakai baju terbuka, makanya saya enggak diomongin. Keluarga juga enggak terganggu karena perilaku saya enggak aneh-aneh. Saya berusaha menjaga itu.

Bagaimana kisahnya sampai akhirnya menjadi Dea?
Sejak kecil saya menyadari, ada perbedaan pada diri saya. Ketika saya lahir menangis, mungkin sudah mau mengatakan, ada sesuatu yang salah. Masalahnya, ketika dihadapkan pada sebuah kehidupan yang memiliki aturan dan harus diikuti, harus saya yakini bahwa itu adalah suatu perjuangan. Sejak kecil saya sudah merasakan bahwa saya bukan laki-laki. Selepas SMA, saya sudah mengenakan pakaian wanita dan memanjangkan rambut. Saya mengalami pertentangan batin sejak lama dan saya hanya menunggu “golden moment” saja di mana saya cukup siap mental dan finansial untuk bisa merealisasikan apa yang menurut saya harus dibetulkan. Ketika saya sudah bekerja dan bisa membiayai operasi (perubahan kelamin, Red.) di usia 25 tahun.
Ini bukan bentuk pemberontakan. Ini suatu tindak lanjut. Ketika saya diberi opsi untuk memilih jadi laki-laki atau perempuan, saya akan memilih jadi perempuan. Sayangnya tidak ada opsi, jadi saya harus menjalani peraturan yang berlaku. Ini hanya bentuk ketaatan pada lembaga, baik keluarga, sekolah, dan lain-lain.

(Bersambung)