Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Maret 2014

Sisi Lain Kehidupan Seorang Ladyboy

Yonlada Suanyos- Chinanews.com
Yonlada Suanyos- Chinanews.com


“ Aku tahu aku dilahirkan sebagai laki laki, tapi aku merasa bukan laki laki. Aku merasa sebagai perempuan tapi mengapa aku berbeda dengan teman teman perempuan. Setelah kawan-kawan banyak yang menganggapku begitu feminine, maka disitulah aku tahu bahwa aku seorang transsexual.” Ia juga mengatakan bahwa menjadi wanita bukan karena lingkungan atau orang tuanya yang salah asuh, tapi benar- benar dari dasar hati yang paling dalam."


Ourvoice.or.id. Ladyboy atau transsexual adalah seseorang yang dilahirkan sebagai laki laki dan menjelang dewasa menjadi perempuan. Di Indonesia disebut waria, sedang di Thailand di sebut katoey.

Mereka ternyata ada hampir di seluruh dunia, seperti  India, Brazil, Lebanon, USA, China, Singapore termasuk Indonesia.

Pada umumnya alasan ladyboys ini sama , bahwa mereka memiliki perasaan, pikiran dan hati sebagai wanita, namun berada dalam tubuh laki laki. Bagi yang banyak uang biasanya mereka melakukan operasi payudara, ganti kelamin dan operasi2 lainnya untuk mempercantik penampilan. Tak heran di Thailand ladyboy sangat terkenal karena umumnya mereka sangat cantik dan sexy melebihi wanita asli.

Pemerintah Thailand memberi kebebasan pada para ladyboy untuk mengekpresikan diri, misalnya mengadakan lomba Ratu Kecantikan, mengadakan pertemuan sesama komunitas ladyboy, tampil di panggung2 musik dll. Tentu saja mereka boleh menggunakan nama wanita secara tidak resmi karena hukum di Thailand tak mengizinkan seorang ladyboy mengganti akte lahir dengan nama wanita. Mereka tetap menggunakan nama laki laki sesuai akte lahir.

Dulu saya mengira ladyboy/waria itu hanya mejeng dipinggir jalan menawarkan jasa seperti di Lapangan Banteng dan Taman Lawang. Namun pandangan saya berubah setelah melihat sisi lain kehidupan seorang ladyboy asal Thailand yang disiarkan oleh TV ABC3, Australia.

Namanya Yonlada Suan-yos (30 th). Ia cantik, pintar, kaya dan dermawan. Pengusaha permata yang juga mengelola salah satu station TV di Thailand. Ketua dari Trans Female Association of Thailand yang memperjuangkan hak-hak para ladyboy. Menyandang dua gelar sarjana dari universitas yang berbeda dan beberapa kali memenangkan pemilihan Transsexual Beauty Pageant nasional dan internasional. Tak heran piala piala kejuaraan berderet di rumahnya.

Yonlada lahir di propinsi Nan dengan nama Kerekkong Suan-yos.. Ayahnya seorang perwira polisi yang disegani. Ketika teman temannya bercita-cita ingin menjadi dokter, pilot, guru dll, Kerekkong hanya ingin menjadi wanita. Ayah dan ibunya telah berusaha menjadikan Kerekkong lelaki sejati dengan memberi mainan bola, tapi ia lebih suka boneka. Ayahnya mengajak bermain tinju atau bertemu rekan sesama polisi agar jiwa laki lakinya muncul, namun tetap saja jiwa kewanitaan Kerekkong lebih dominan. Saat itu ia sendiri bingung akan statusnya.

“ Aku tahu aku dilahirkan sebagai laki laki, tapi aku merasa bukan laki laki. Aku merasa sebagai perempuan tapi mengapa aku berbeda dengan teman teman perempuan. Setelah kawan-kawan banyak yang menganggapku begitu feminine, maka disitulah aku tahu bahwa aku seorang transsexual.” Ia juga mengatakan bahwa menjadi wanita bukan karena lingkungan atau orang tuanya yang salah asuh, tapi benar- benar dari dasar hati yang paling dalam. Keinginan untuk operasi kelamin semakin kuat, tapi dari mana biayanya yang sangat mahal itu?

Ternyata Kerekkong anak yang sangat pintar, setiap tahun ia mendapat beasiswa. Ia bisa menabung sedikit demi sedikit dan akhirnya pada usia 16 tahun ia mampu membayar operasi kelamin dan memperbesar buah dada. Ia pun makin percaya diri dan merasa menjadi wanita seutuhnya dengan nama panggilan Yonlada. 

Beberapa kali memenangkan Transsexual Beauty Pageant membuat namanya makin terkenal. Saat Yonlada masih kuliah, ada yang mengajaknya mengikuti pemilihan Female Beauty Contest. Ia menjadi runner-up kontes kecantikan tersebut tapi akhirnya media menuduhnya menipu masyarakat karena dia bukan wanita. Walau ayahnya seorang perwira polisi, Yonlada tetap masuk penjara dengan tuduhan memalsukan indentitas. Saat di wawancara oleh TV ABC, dihadapan ayah dan ibunya, Yolanda minta maaf sambil menangis. Katanya tak ada maksud ingin menipu, ia hanya ingin diakui sebagai wanita. Kini Yonlada mulai terjun ke dunia politik dan bercita cita menjadi senator.

Mendengar kisah ladyboys, saya teringat ketika berada di Singapore beberapa tahun lalu. Saat itu seorang sahabat pria mengajak saya melihat kehidupan ladyboy. Ternyata tempatnya agak jauh dari daerah “lampu merah Geilang” yang terkenal dengan lampion merah didepan rumah.

Mobil berputar melihat lihat ladyboys sexy dan saya sengaja sembunyi duduk dibelakang. Tak lama salah seorang dari mereka menghampiri dan duduk disamping sahabat saya. Si ladyboy terkejut ketika saya tersenyum sambil memperkenalkan diri. Mungkin ia mengira kami suami istri. Setelah berbincang sejenak, teman saya bertanya berapa harus membayar karena diajak keliling oleh kami. Inilah jawabannya.

“Tak usah bayar, akulah yang berterima kasih karena kalian mau mendengarkan keluh kesahku. Ingat ya pesanku, jadi suami jangan pernah mencoba bermain dengan ladyboy karena service kami lebih hebat dari wanita asli. Tak heran banyak pelanggankami ketagihan. Awas jangan berkhianat pada istrimu.” 

Iapun turun dari mobil, melambaikan tangan lalu menghilang dikegelapan. Ternyata ladyboys di Singapore sering di razia, tak seperti PSK dari berbagai bangsa yang bebas beroperasi dipinggir jalan daerah Geilang.
Ladyboy, gay, lesbian juga manusia seperti kita, ingin dihargai , punya perasaan dan hati. 

Janganlah  menghakimi  lalu berhak berbuat apa saja atas mereka. Kita bukan manusia suci, hidup kita belum tentu lebih baik dari mereka. Maka janganlah   seenaknya bertindak melebihi Tuhan. Jika tak mampu membantu memberi jalan keluar, lebih baik  doakan saja.


Penulis : Fey Down


Sumber |  suara kita

Lengger Lanang, Budaya “Crossdresser” ala Banyumas


"Dengan demikian, kata dia, seni “cross gender” atau orang yang berpakaian menyerupai lawan jenisnya ini merupakan kesenian yang tinggi."  


Ourvoice.or.id. Siang itu suasana halaman Padepokan Payung Agung di Desa Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, Cilacap, tampak dipadati ratusan warga. Kedatangan mereka ke tempat itu untuk menyaksikan pergelaran Lengger Banyumasan yang sengaja digelar oleh pengelola Padepokan Payung Agung guna menyambut datangnya Tahun Baru Jawa 1 Suro 1946. Bagi warga setempat, pergelaran Lengger Banyumasan sebenarnya bukan sesuatu yang asing karena kesenian tradisional ini merupakan budaya populis yang tumbuh dan berkembang di Banyumas sejak ratusan tahun silam.

Akan tetapi dalam pergelaran Lengger Banyumasan kali ini, ada sesuatu yang menarik bagi warga setempat lantaran beberapa penarinya merupakan kaum pria yang berdandan seperti halnya perempuan, sehingga disebut dengan LenggerLanang” (pria.) dan salah satunya telah berusia lanjut yang dikenal dengan panggilan Mbah Dariah.

Dariah (Photo : http://clc-purbalingga.blogspot.com)
Dariah (Photo : clc purbalingga)


Pria berusia 84 tahun ini konon merupakan Lengger “Lanang” tertua di eks Keresidenan Banyumas yang bermukim di Desa Somakaton, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Meski telah lanjut usia, penampilan Dariah tak kalah dengan penari Lengger “Lanang” yang masih berusia muda, bahkan tidak kalah luwes dengan perempuan penari lainnya.

Secara sepintas, orang tidak akan menyangka jika Dariah yang pernah mendapat anugerah dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kategori Maestro Seniman Tradisional pada 2011 ini merupakan seorang pria karena gerakan tarinya yang lemah gemulai maupun dandanannya mirip perempuan.
Selain itu, Dariah juga berkolaborasi dengan seniman serba bisa dari Yogyakarta Didik Nini Thowok.
Saat ditemui di sela-sela pergelaran Lengger Banyumasan, budayawan Ahmad Tohari mengatakan, LenggerLanang” sebenarnya telah ada di Banyumas sejak dulu dan sudah menjadi hal biasa.

“Seperti Mbah Dariah itu salah satunya. Sekarang di Rawalo ada Lengger `Lanang` generasi baru, saya sudah pernah melihat pentasnya, benar-benar cantik,” katanya.

Menurut dia, masalah “transsexsual” di Banyumas merupakan hal biasa.
Akan tetapi, kata dia, kelangsungan Lengger “Lanang” sempat tenggelam setelah beberapa tokohnya seperti Mbah Dariah ini putus regenerasinya.

“Di kampung saya (Jatilawang, Banyumas) juga pernah ada Lengger `Lanang` karena itu hal biasa. Ada lengger dan ada ronggeng. Sebetulnya lengger itu untuk yang laki-laki, sedangkan ronggeng untuk perempuan,” kata penulis novel “Ronggeng Dukuh Paruk”.

Lebih lanjut, Kang Tohari (panggilan akrab Ahmad Tohari, red.) mengatakan, lengger atau ronggeng ini berasal dari tradisi pemujaan terhadap Dewi Kesuburan dan telah berlangsung lama.
Dulu, kata dia, pementasan lengger maupun ronggeng tidak pernah memasang tarif karena merupakan perangkat kebudayaan desa.

“Setiap desa punya ronggeng. Itu terekam di buku `History of Java`,” katanya.
Ia mengatakan, budaya Banyumas berorientasi kepada kesenian rakyat dengan gerak yang sederhana, diulang-ulang, tidak canggih, dengan tujuan agar tetap dimiliki dan dikuasai oleh semua orang.

“Tidak elitis seperti Serimpi dan Gambyong yang ditunjukkan di tempat khusus. Kalau lengger atau ronggeng di mana pun jadi,” katanya.

Dia mengaku, saat Kongres Lengger Nasional beberapa waktu lalu sempat meminta agar lengger tidak dituntut untuk menjadi adiluhung (kesenian yang elit, red.) karena bisa jadi elitis.

“Kalau jadi elitis, nanti bisa hilang. Biar dia (lengger dan ronggeng) tetap jadi populis, sederhana, mudah dipelajari sehingga semua orang bisa jadi lengger, milik rakyat seperti ebek (kuda lumping), jangan dibikin canggih-canggih, nanti malah orang-orang tertentu yang bisa,” katanya.

Menurut dia, budaya Banyumas tidak bisa diukur dengan takaran atau nilai-nilai keraton karena ukurannya masyarakat.

Secara terpisah, seniman Didik Nini Thowok mengimbau para Lengger “Lanang” generasi baru untuk mempelajari secara serius jika mereka ingin meneruskan tradisi Lengger “Lanang”.

“Karena seni tradisi `cross gender` seperti yang saya lakukan, itu sebenarnya seni yang serius. Saya mendapat kesempatan belajar di Jepang, India, dan China tentang tradisi `cross gender` (laki-laki memerankan wanita) itu semuanya serius,” katanya.

Dengan demikian, kata dia, seni “cross gender” atau orang yang berpakaian menyerupai lawan jenisnya ini merupakan kesenian yang tinggi.

Bahkan di Jepang, lanjutnya, masyarakat sangat respek terhadap Onagata karena merupakan seni yang serius, bukan guyonan.

“Semua tarian yang `basic`-nya tradisi itu punya akar yang kuat. Itu yang harus dipelajari,” katanya.
Tradisi kuno
Menurut dia, seni tradisi cross gender (orang yang berpakaian menyerupai lawan jenisnya) sebenarnya sudah lama ada di Indonesia namun sempat terputus, sehingga banyak masyarakat yang tidak tahu kalau seni tersebut merupakan tradisi kuno. Dalam hal ini, dia mencontohkan pergelaran wayang orang di Keraton Yogyakarta ada laki-laki yang memerankan peran wanita.

Menurut dia, hal ini disebabkan Keraton Yogyakarta memeluk agama Islam sehingga peran perempuan dimainkan oleh laki-laki.

“Dalam wayang orang kadang ada adegan pelukan, padahal dalam agama Islam, yang bukan muhrimnya dilarang berpelukan, sehingga peran perempuan dimainkan oleh laki-laki,” kata dia menjelaskan.
Bahkan saat itu, kata dia, jika seorang perempuan menari di depan umum, citranya akan menjadi sangat jelek.

Oleh karena itu, Didik sering kali memberikan pemahaman tentang tradisi “cross gender” ini kepada mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi.

“Ini (tradisi `cross gender`) merupakan sejarah, dan ini tertulis, tidak asal-asalan,” katanya.

Saat mendapat undangan di Amerika beberapa waktu lalu, dia mengaku sempat mengutip tembang dalam Serat Centhini khususnya tentang kesenian lengger.

Lengger saat itu (dalam Centhini) adalah laki-laki yang memerankan wanita,” katanya.

Terkait keberadaan Lengger “Lanang” di Banyumas, Didik mengaku jika saat ini sedang mendokumentasikannya dalam bentuk video dengan mendatangi rumah Lengger “Lanang” Dariah di Desa Somakaton, Kecamatan Somagede, Banyumas.

“Tadi pagi (Kamis, red.) tim saya men-`shooting` Pendopo Sipanji Banyumas, Sungai Serayu, kemudian ke Lengger Dariah. Sebenarnya saya kelewatan satu, punden yang digunakan untuk upacara lengger,” katanya.

Menurut dia, ide untuk mendokumentasikan Lengger Dariah ini berawal dari perjalanannya di Amerika Serikat pada 20 September hingga 4 Oktober 2012.

“Saat itu, saya menari di beberapa tempat. Terutama yang buat saya sangat bergengsi, saya diundang oleh Yale University di New Haven, yang merupakan universitas kedua setelah Havard,” kata dia yang memiliki garis keturunan warga Sidareja, Cilacap.

Di perguruan tinggi ternama tersebut, dia diminta untuk menyajikan pertunjukan dan mengisi sebuah diskusi tentang budaya Asia khususnya Indonesia. Menurut dia, pertunjukan tersebut selama satu jam dan telah disiapkan lebih dulu dengan membuat rekaman video yang menggambarkan keindahan Yogyakarta.

“Ini karena kebanyakan orang asing `nggak` tahu Yogyakarta atau Indonesia, tetapi lebih kenal Bali. Saya pakai model film, seperti film pariwisata yang menunjukkan peta Indonesia, posisi Yogyakarta, ada apa di sana, Gunung Merapi, dan sebagainya sampai keraton, ada sultan, tari Bedoyo, tari Langendrian, di situ ada tari Golek,” katanya.

Ia mengatakan, tari Golek pada zaman Sultan Hamengkubuwono VII penarinya adalah laki-laki.
Selanjutnya, kata dia, ada tembang petikan dari babad Mangkunegaran yang menceritakan bahwa Sultan Hamengkubuwono VII mengirim seorang pangeran yang menarikan tari Golek Lambangsari sebagai hadiah ulang tahun Mangkunegoro di Solo.

“Itu yang saya petik. Berdasarkan itu, saya muncul dengan tari Golek Lambangsari,” katanya.

Menurut Didik, tari Golek Lambangsari menunjukkan adanya penari “cross gender” (identitasnya tidak sesuai dengan pengertian yang konvensional tentang gender laki-laki atau perempuan, red.) di dalam istana.

“Setelah saya selesai menari, kemudian saya munculkan Pendopo Sipanji Banyumas. Lalu saya petik tembang Centhini karena dalam Centhini buku kelima, ada tembang yang menceritakan bahwa Si Bolang itu menari ronggeng jadi perempuan. Petikannya dari itu, maka saya masukkan Lengger Banyumas,” katanya.

Saat memberikan presentasi di Amerika tentang Lengger “Lanang” yang merupakan “cross gender” di masyarakat dan memunculkan Lengger Dariah, dia mengaku berjanji untuk membuat dokumentasi tentang Lengger Dariah.

“Saya janji, pokoknya sepulangnya dari Amerika, saya mau membuat dokumentasi dengan Lengger Dariah. Secara kebetulan saya diundang untuk tampil di sini (Padepokan Payung Agung), sehingga saya sekalian buat dokumentasi Lengger Dariah, dan Mbah Dariah pun saya ajak ke sini,” katanya.

Dariah Mengabdikan Hidupnya Untuk Tari Lengger Banyumasan (photo : detik.com)
Dariah Mengabdikan Hidupnya Untuk Tari Lengger Banyumasan (photo : detik.com)


Disinggung mengenai perasaannya ketika berkolaborasi dengan Dariah, dia mengaku langsung merasa cocok meskipun baru pertama kali bertemu dan menari bersama.

“Saya melihat, Mbah Dariah ini sosok yang luar biasa. Saya melihat seniman-seniman yang dulu karena proses berkeseniannya beda dengan seniman yang sekarang, saya melihat pasti `low profile` dan kehidupan mereka bersahaja,” katanya.

Bahkan, kata dia, sosok Dariah memiliki energi yang luar biasa dan terlihat saat menari.

“Meskipun saya banyak gerak dan `guyon` (bercanda, red.), saya mengamati bagaimana gerak beliau. Begitu dengar gamelan, beliau langsung `ngegol-ngegol` (menari, red.),” katanya.

Sementara dalam perbincangannya dengan Didik Nini Thowok, Dariah mengaku sempat memimpikan bertemu seniman “cross gender” ini.

“Saya pernah memimpikan, kapan bisa bertemu kamu,” katanya.

Saat ditemui wartawan di rumahnya beberapa waktu lalu, Dariah yang memiliki nama asli Sadam mengaku, kecintaannya terhadap lengger berawal saat rumahnya kedatangan seorang pengembara bernama Kaki Danabau dan mengatakan kepada kakeknya yang bernama Wiryareja bahwa cucunya (Sadam) dirasuki “indhang” atau roh lengger dan bakal menjadi penari lengger yang terkenal.

Oleh karena itu, Sadam merasa terpanggil untuk menjadi seorang penari lengger sehingga dia pamit untuk mengembara dengan bekal seadanya. Sadam kecil ini akhirnya sampai di perkuburan tua di Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Banyumas. Dia pun segera bertapa di tempat yang dikenal dengan sebutan makam Panembahan Ronggeng. Setelah sekian lama bertapa, Sadam kembali ke desanya dan sebelumnya sempat membelanjakan seluruh uangnya untuk membeli konde, kemben, selendang, dan kain. Sadam yang telah berusia 16 tahun itu akhirnya memantapkan diri sebagai seorang penari lengger dan namanya diganti menjadi Dariah.

Meskipun tidak ada yang mengajarinya, tari Lengger yang dimainkan Dariah sangat luwes dan kecantikan wajahnya menjadikan dia semakin terkenal.

Sumber suarakita

Minggu, 14 Juli 2013

Aku pencuri Celana Dalam (2)

Setiap ada kesempatan, sejak saat itu aku selalu berpesta pora dengan baju-baju kotor penghuni kos Dudi, aku benar-benar ketagihan dengan bau memek Mbak-Mbak itu, bau khas ketiak masing-masing, bau apek keringat baju dalam setelah seharian kerja. Untuk anak seusiaku yang baru tumbuh pesat gelora nafsu sexnya, mungkin aku merasa beruntung karena dengan bayanganku sudah bisa membaui, menjilati, menciumi seluruh tubuh bahkan sampai ke liang-liang vagina gadis-gadis cantik itu.

Tidak jarang karena kesempatan di rumah Dudi terbatas, maka aku membawa pulang sepotong dua potong celana dalam dari keranjang baju kotor itu ke rumah, kugantikan celana dalamku dengan celana dalam wanita 'pinjamanku', rasanya lebih nyaman dan menggairahkan hidupku saat kupakai.

Sebelum aku membawa pulang salah satu celana dalam Mbak-Mbak cantik calon 'korbanku', terlebih dahulu aku harus mengetahui jadwal mencuci mereka, sehingga bila jadwal mencuci mereka Minggu, maka aku dengan bebas 'meminjam celana dalam itu' sebelum hari Minggu. Tetapi meskipun jarang sekali, ada juga yang tiba-tiba mengubah jadwal mencucinya sehingga aku kelimpungan juga saat akan mengembalikan celana dalam itu, waktu kuambil dari keranjangnya masih terlihat bertumpuk baju kotor lainnya, saat kukembalikan terlihat kosong. Aduh! Pasti dia mencari-cari dong! Aku takut kalau dia merasa kehilangan lantas mengamankan keranjang baju kotornya dengan mengunci di dalam kamar, sial bener kan?

Untunglah mereka kelihatannya tidak terlalu peduli, apalagi kalau koleksi celana dalamnya mirip-mirip gitu, aku bisa mengembalikan di jadwal mencuci minggu depannya. Tapi aku tetap harus hati-hati kan? Yang paling mengasyikan adalah bila ada salah satu penghuni kos yang akan pindah keluar, maka bisa dipastikan celana dalam kotornya akan kusikat untuk kenang-kenangan, so informasi dari Dudi sangat membantuku mengetahui siapa saja yang akan pindah kos.

Setelah koleksiku ada belasan dan aku sudah hampir lulus SMP, kebiasaanku mengoleksi celana dalam kuhilangkan, takut ketahuan ibuku, apalagi Ibuku saat aku semakin dewasa semakin rajin menggeledah kamarku, ah malas kalo tiap hari perasaan ini menjadi was-was terus, lagipula celana dalam Mbak Lina, Mbak Dian, dan lainnya sudah berkurang kekuatan 'magis'nya untuk meletupkan birahiku. Apa mungkin bau spermaku yang mendominasi ya? Aku lebih suka 'pinjam' saja, meskipun kisah selanjutnya di bawah ini kadang menjadikanku harus merasa jadi seperti 'pencuri'.

*****

Saat ini, aku sudah duduk di bangku kuliah, kenangan saat remaja itu kambuh lagi, tentu dengan pengetahuan dan fantasi yang jauh lebih lengkap, sekarang bila aku mendapatkan celana dalam kotor, tak akan kucoba untuk memakainya (jarang, habis celana dalam sekarang mungil-mungil takut sobek, sedang badanku sekarang 3 kali lipat lebih besar daripada yang dulu, begitu juga kontolku, haha).

Kugenggam erat dan kulipat sedemikian rupa hingga seluruh celana dalam itu tertutup rapat dalam genggaman tanganku, aku merasa menguasainya dengan sempurna, semakin lembut bahan pembuatnya semakin kecil pula remasan yang bisa dilakukan. Setelah itu kuhirup seluruh aroma keringat mulai dari karet-karet berenda yang melingkar di antara lekuk pinggang wanita sampai pada lipatan paha yang biasanya basah oleh keringat itu, kemudian baru kuciumi seluruh permukaan bagian bawah celana dalam itu yang biasanya sedikit menyisakan lendir tipis menyegarkan, dan terakhir kujilati dengan rakus bagian selangkangan dengan sesekali menghirup udara sedalam mungkin untuk menangkap aroma kewanitaan yang ditinggalkan oleh si empunya celana dalam itu.

Kukocok dengan perlahan kemaluanku yang semakin mengeras dan kuusap-usapkan pada seluruh bagian celana dalam itu sambil merasakan kelembutannya. Sementara bila aku ada kesempatan untuk mendapatkan lebih dari satu celana dalam, maka yang satunya kusarungkan di kepalaku dengan bagian memek di dekat hidung, agar aroma yang mendebarkan itu memberikan rasa horny yang luar biasa, sesaat bila kocokanku semakin cepat maka kulepas celana dalam di kepalaku dan kunikmati lendir-lendir lezat yang ada di sekitar penutup memek itu dengan hirupan-hirupan 'maut'.

Saat pikiranku mulai memasuki zona nikmat, maka yang ada di benakku adalah jeritan pemilik celana dalam itu yang begitu terengah-engahnya melawan rasa nikmat saat lidahku mulai menjalari seluruh vaginanya meninggalkan ludah yang berceceran membasahi rambut-rambut kemaluannya, sehingga tampak segar menggairahkan. Kusedot dengan irama indah itilnya yang mulai mencuat dengan kelembutan yang perkasa.

*****

"Oh oh Tanto, benamkan seluruh wajahmu ke dalam selangkanganku!" teriak Shinta si pemilik celana dalam warna kuning motif kupu-kupu itu dengan memelas.
"Hirup dan jilat semua lendir yang keluar dari memekku ini tanpa tersisa sayangku, ahk ahk", ceracaunya menahan orgasme yang menyerangnya bertubi-tubi.

Sementara Ika pemilik celana dalam mungil warna hijau, dengan motif komik bocah bandel 'Shin Chan' mulai menyemangatiku..

"Sayang, ah betapa nikmat kemaluanmu mengaduk-aduk memekku yang mungil ini, ssh terus honey.. Ssh jangan berhenti cintaku.. Ohh oh".

Badan Ika terguncang-guncang keras naik ke atas dan ke bawah. Ika dengan postur tubuhnya yang mungil membuat seakan memeknya tertancap sesak di kemaluanku yang begitu besar, sehingga badannya terombang-ambing mengikuti irama sodokan kemaluanku yang menyerang memeknya tak henti-henti, lantas aku menyuruhnya untuk merangkul erat pinggangku sambil mengulum dan menjilati puting susuku agar mulutnya yang juga mungil itu sedikit teredam mengaduh nikmat. Kecupan liar Ika membuat dadaku seolah ditato warna merah tua bergambar bibir mungil. Setelah berpacu dalam nafsu beberapa lama, maka aku mulai merasakan desakan nikmat dari kemaluanku ..

"Aah, manisku aku mau keluar nih!" teriakku histeris.
"Akh, kita juga sayang!" teriak mereka parau, mungkin otak yang mengatur suara mereka sepertinya konslet tak terkontrol karena keenakan.

Mereka mencaci, mencakar, menggigit dengan binal saat mencapai puncak kenikmatan..

"Setan kamu, sayangku, oh habiskan cepat! Minum kencingku juga lendirku, ahk oh oh akh!", umpat Shinta sambil menjambak rambut dan membenam-benamkan dengan kasar kepalaku ke dalam selangkangannya yang terbuka lebar penuh bulu itu.
"Aduh! Aduh! Sakit tau nggak! kemaluan Kakak brengsek, tapi enak!"

Kepala Ika dengan wajah imut menggemaskan tengadah ke atas sambil meringis sakit karena kemaluanku yang besar itu menghunjam tanpa ampun mengisi seluruh liang vaginanya yang masih perawan sampai sedalam-dalamnya sambil menyemburkan semprotan-semprotan peju hangat yang memenuhi rahimnya, rasa nikmat amat sangat saat orgasme mengalahkan nyeri koyaknya keperawanan Ika.

Aku menekan sekuat tenaga pantatku supaya hunjaman kemaluanku benar-benar sempurna mentok ke dalam vagina Ika yang sudah kepayahan sambil terus menahan pundak Ika agar badannya tidak terangkat ke atas seiring dengan hujaman terakhir kemaluanku yang menyemburkan sperma penghabisan.

Suasana menjadi hening, yang terdengar hanya erangan kami dan napas yang masih tersengal-sengal, bau keringat, peju, pipis, memek berbaur menjadi satu.

*****

Ahh, nikmatnya! Surut sudah fantasiku, kemaluanku melemas bahagia, samar celana dalam Ika yang baru lulus bangku SMP itu tergolek seolah tak berdaya di dekat selangkanganku dengan lelehan cairan putih kental spermaku membasahi seluruh bagian bawah celana dalam itu. Sementara celana dalam kotor Shinta yang berpantat padat lagi indah itu, masih terjejal di mulutku.

Aku mencuri celana dalam wanita itu dari dalam tas mereka, saat Shinta adik tingkatku yang menjadi kakak pembina pramuka dengan salah satu binaannya bernama Ika, menitipkan tas mereka di mobilku karena Shinta harus mencari penjemput Ika yang terlambat datang. Mereka baru saja menyelesaikan acara perkemahan selama 3 hari di samping kampusku.

Pada saat mengambil dari dalam tasnya, sebenarnya aku hanya ingin menciumi celana dalam kotor Shinta dan Ika, yang aku yakin aromanya pasti sungguh kuat menggairahkan, karena dengan jadwal perkemahan yang padat pastilah mereka enggan menganti celana dalam dan bra, belum lagi resapan keringat aktif mereka, ahh kebayang nggak sih? Mmh.. Sungguh sedap.

ALAMAK! Sungguh kaget aku, saat Shinta dan Ika tiba-tiba mengambil tasnya yang datang dari arah belakang, aku pikir mereka masih lama mencari penjemput Ika, untung branya masih urung aku ambil juga, apa jadinya saat kutarik bra itu lantas tas itu tiba-tiba diambil oleh pemiliknya, idih malu amit!

Akhirnya celana dalam yang telanjur aku ambil dan kusembunyikan di kantong belakang kursi mobil kubawa pulang, so meledaklah fantasiku seperti cerita di atas saat aku berada di dalam kamarku. Aku hanya berharap mereka tidak merasa kehilangan satu benda keramat mereka. Shinta dan Ika yang kutahu adalah anak orang kaya, so mereka pasti punya pembantu dong, jadinya saat pakaian kotor itu dibongkar dari tas mereka, tanpa sempat mereka lihat lagi, perkiraanku langsung diusung oleh pembantunya, nah karena tidak mencuci sendiri, mudah-mudahan mereka tidak tahu kalau ada yang hilang, apalagi cuma sebuah celana dalam. Ah bodo ah! Aku sudah jadi maling, maling celana dalam wanita. Dan setiap saat bila ada kesempatan maka aku bisa jadi "calon" pencuri lagi bila gagal mengembalikan 'daleman' wanita yang (sedianya) hanya aku pinjam.

Sebelum aku mengenal dunia internet, aku merasa menjadi orang 'antik' dengan kebiasaanku, tetapi ternyata diinternet celana dalam kotor saja diperdagangkan bebas, ada komunitasnya lagi, sehingga aku sekarang tidak 'terlalu' merasa lain sendiri, ternyata banyak juga pelaku seks menyimpang seperti yang kualami dan dialami juga oleh orang lain, bahkan lebih parah.

Bolehkah saya mengusulkan kepada para pembaca untuk membuat komunitas kaum fetish? Hanya untuk sekedar bertukar cerita atau bahkan mungkin bisa saling bertukar koleksi, rasanya nyaman bila aku bisa berdiskusi dengan sesama penyuka 'daleman' bekas pakai baik yang kelas ringan maupun kelas berat.

Ketertutupan 'penyuka daleman' (fetish) ini di negara kita memang menghambat komunikasi antar kaum fetish, sebagai awalan saya akan membuat milis bagi kaum fetish yang terbuka juga untuk umum yang ingin lebih memahami tentang kita, biar masyarakat lebih paham akan penyimpangan kita dan tidak menjadikan itu sebagai suatu keresahan tetapi justru kemakluman, di situ kita bisa bicara apa saja mulai dari kisah kita sendiri sampai dengan informasi apa dan siapa saja, Mbak, adik atau tante yang bersedia menjual celana dalam bekas pakainya atau apa saja yang diburu penikmat fantasi seksual ini.

Daripada nyolong lantas digebuki seperti di berita koran, eh ternyata celana dalam doang yang dicolong! Nggak keren amat! ;-D Ah.. Jangan sampai deh..


Tamat

Sabtu, 13 Juli 2013

Aku Pencuri Celana Dalam (1)

Panggil saja aku Tanto. Pencuri? Ah sebenarnya bukan! Aku hanya bermaksud 'pinjam' tetapi kadang tidak bisa mengembalikan! Aneh bukan? Tetapi tetap saja sang empunya menuduhku pencuri! Celana dalam lagi. Duh mungkin kalo dilihat sisi baiknya lebih baik daripada jadi pemerkosa. Ah dasar pencuri selalu membela diri!

Sejak usia remaja aku punya kebiasaan (sedikit) aneh, yaitu menjadi penikmat celana dalam bekas pakai dengan bahasa kerennya 'used panties', atau celana dalam kotor alias 'dirty panty' wanita. Tetapi aku juga pemilih, artinya tidak semua celana bekas pasti aku cumbui, nggak seru dong!! Bisa-bisa yang di sampah juga mau! Nggaklah..

Aku hanya mau celana dalam yang jelas pemiliknya dan aku juga menyukai pemiliknya, bisa jadi suka karena seksinya, manisnya, pokoknya asal suka aja atau paling tidak bisa mendugalah bahwa si empunya pasti kusukai, misalkan di suatu rumah yang isinya terdapat cewek-cewek seksi yang semuanya aku suka, tentu kalo aku ambil celana dalamnya pasti milik salah satu dari mereka bukan? Biasanya sih kos-kosan puteri.

Satu lagi syarat kesukaanku adalah celdam yang baru saja dipakai dan belum direndam di dalam cucian, artinya bau 'kesegaran' kewanitaannya tidak boleh 'tercemar' bau-bauan lain misalnya pemutih ataupun detergent, so itu berarti pula ogah sama cewek yang masih datang bulan, nggak asyik!

Aku paling suka jika mendapatkan tempat pakaian kotor yang dalam keadaan kering, apalagi dalamnya penuh celana dalam dan bra, kaos dalam berikut baju-baju senam. Alamak.., pesta pora! Tapi kalau toh harus memilih, tentu celana dalam dong pilihan utamanya!, disamping lebih kusukai juga karena lebih gampang membawanya, dikantongi dengan dilipat-lipat kecil beres deh.

Kisah awalnya, dahulu aku mempunyai teman karib sebut saja Dudi, nah di belakang rumah Dudi dipakai kos putri, ada 6 kamar. Waktu itu aku masih anak ingusan pakai seragam putih dengan celana pendek biru, ya betul! Masih SMP! Kelas 2. Kos putri Dudi dihuni oleh Mbak yang cantik-cantik karena dekat rumah Dudi terdapat perkantoran, bank dan juga Mall, tahu sendiri kan?

Kira-kira bagaimana gambaran para penghuni kos Dudi? Hampir tiap hari sejak aku sekelas dengan Dudi di kelas 2 SMP, aku selalu bermain di rumahnya, maklum Dudi sering ditinggal pergi oleh orang tuanya, ayahnya ABK kapal dan ibunya punya toko pakaian di Mall sehingga jarang di rumah. Tentu ibu Dudi senang kalau aku sering berada di rumah Dudi, bisa menemani Dudi, sementara kakak-kakak Dudi ada 2 orang semuanya kuliah di kota lain. Malahan kadang Ibu Dudi meminta kepada orangtuaku supaya dibolehkan menginap di rumah Dudi. Wah! Asyik kan?

Lama-lama bosan juga bermain yang itu-itu aja, Nintendo, kartu, monopoli dll. Kos Dudi kalau siang memang sepi, ditinggal kerja oleh penghuninya, suatu ketika karena bosan maka kami bermain di area belakang yaitu tempat kamar-kamar kos yang hanya dibatasi tembok setinggi kepala orang dewasa, kami geli juga saat melihat jemuran yang melambai-lambai warna-warni seperti bendera di depan kamar-kamar kos. Ide gila meluncur begitu saja di benak kami. Bermain sambil memakai baju wanita, juga sepatunya. Kami berkejaran riuh dengan bunyi berklotakan! Tiba-tiba..

"Apa-apaan kalian ini? Nanti kalo baju Mbak-Mbak rusak atau kotor kalian saya laporkan sama Ibu ya!", hardik Mak Ijah yang melongok ke jendela belakang karena terganggu keributan dan kaget melihat kami memakai rok mini dan blus penghuni kos.
"Ayo kembalikan ke tempatnya!", serunya lagi.

Kami memang berhenti tapi dasar ABG, kami selalu saja mempunyai ide.

"Eh, kita main jadi wanita lagi yuk! Tapi jangan pakai baju yang di jemuran, nanti kalau kotor ketahuan", kata Dudi
"Kita pakai baju bekas yang sudah dipakai mereka aja, jadi nggak ketahuan kalau nanti kotor!", idenya lagi, aku mengiyakan.

Bergegas kami menuju keranjang pakaian kotor, Dudi mencoba korset, aku memakai daster, bahkan bra! Kami silih berganti mencoba semua baju yang ada di dalam keranjang pakaian kotor, kami tertawa-tawa tertahan, tetapi diam-diam di balik tawaku, ada perasaan berdebar yang membuat tanganku bergetar saat mengambil baju-baju itu. Setelah puas, kami kembalikan pakaian kotor itu ke tempat semula.

Tibalah saat tidur siang! Dudi sudah tidur telentang kecapean gara-gara mencoba sepatu hak tinggi punya (kalo tidak salah) Mbak Heny yang mempunyai kaki putih mulus, sedikit berbulu yang terlihat menjuntai dengan rok kerjanya yang mini.

Suasana sepi, Dudi seolah pingsan, Mak Ijah sibuk dengan tumpukan baju seterikaannya, aku mengendap-endap menuju area kos, semakin berdebar saja perasaan ini saat semakin mendekati keranjang pakaian kotor Mbak Lina. O ya, tidak semua keranjang pakaian kotor ada di depan kamar, kadang ada yang di dalam kamar, tapi ada juga yang meletakkan pakaian kotornya di dekat tempat cucian di dalam ember warna-warni. Mungkin biar gampang menandainya.

Satu persatu dengan tangan yang seolah tak terkontrol karena terus bergetar, aku keluarkan baju-baju itu dengan hati-hati dengan memperhatikan urutannya, jangan sampai dong mereka tahu! Kalau ada baju yang baru ganti eh.. Urutannya menjadi paling bawah, berabe!

DEG! Jantungku seperti berhenti berdetak saat aku mengangkat rok mini warna merah itu karena tiba-tiba ada sesuatu yang meluncur ke bawah mengenai ujung jari kakiku, ooh seperti mendapat mainan baru perasaanku saat itu. Terlihat celana dalam warna pink dengan renda-renda yang menawan dan pada bagian depannya terdapat seperti jaring-jaring yang dapat menyembulkan bayangan transparan area kemaluan Mbak Lina, iya benar Mbak Lina! Tertulis dengan spidol di celana dalam itu "Lina", hampir aku tidak bisa membacanya karena dadaku terus berdegub kencang hingga membuatku berkunang.

Mbak Lina adalah penghuni kos yang paling cantik, kulitnya putih bersih, matanya sayu menghanyutkan, tinggi semampai, betis dan payudaranya indah lagi kencang terlihat sewaktu memakai kaos ketat dan celana pendek ketat, pantatnya terlihat menungging seperti pantat bintang 'Tomb Raider' hingga sewaktu kulihat dari belakang garis celana dalamnya begitu tercetak jelas di bokongnya, apalagi saat harus membungkuk, Aduhai indah banget pemandangannya, sampai-sampai renda celana dalam yang terlipat itu bisa temaram terlihat saking kencangnya bokong Mbak Lina, rambut hitam lurus melebihi bahu, saat diikat ke belakang nampak kontras dengan lehernya yang putih itu.

Kubongkar semua isi keranjang itu dengan hati-hati, aku hitung celana dalam dan bra yang ada di dalamnya, ada 8 celana dalam dan 5 BH, semuanya mempunyai model yang berbeda-beda membuat mataku berbinar memandangnya. Ada yang model tali yang bisa dilepas sisi-sisinya, model transparan pada bagian pantatnya, model yang seolah hanya menutup bagian memeknya saja, uhk.., benar-benar bikin aku gemas abis!

Segera aku membawanya ke gudang, aku meletakkan 'daleman' itu di atas matras yang sering dijadikan alas senam para penghuni kos. Perlahan-lahan aku mulai mencium celana dalam dan BH itu satu persatu, ah tak terkira deh bagaimana gugupnya aku saat itu. Kubayangkan bau semerbak menyegarkan dari seluruh badan Mbak Lina, bau payudaranya yang menyenangkan saat kuhirup udara di dalam cup bra itu, persis orang menggunakan masker penutup hidung. Kulepas celana biru sekolahku dan kugantikan dengan celana dalam pink yang kutemukan pertama saat membongkar keranjang Mbak Lina tadi.

Di dalam gudang terdapat meja hias yang tak terpakai dengan cermin besar yang masih berdiri tegak, sehingga aku dapat melihat diriku memakai celana dalam juga bra Mbak Lina dengan leluasa, sungguh eksotik dan erotis! Bagian depan celana dalam terlihat jelas dari samping begitu menonjol saat bahan kain celana dalam yang lembut itu tidak dapat menahan desakan
kemaluanku mungilku yang demikian tegang, sementara dadaku yang kecil tak sebanding dengan mancungnya cup BH itu.

Aku mencoba satu-persatu celana dalam dan BH itu kemudian mengelus-elus
kemaluanku yang mungil ini dengan kencang, seolah takkan kubiarkan celana dalam itu tanpa meningkalkan kesan. Aku benar-benar kesetanan! Celana dalam pink tadi sudah membungkus seluruh kemaluan mungilku, aku berganti memakai celana dalam warna hitam dengan ukuran yang sepertinya lebih gede dari yang pink tadi, baru sekarang aku tahu bahwa celana dalam pink tadi modelnya adalah mini, sedang yang hitam adalah midi.

Celana dalam hitam yang kupakai kujejali dengan celana dalam kotor Mbak Lina lainnya, ada yang di pantat, samping dan di dekat
kemaluanku, bahkan hampir semuanya membungkus kemaluanku dengan erat. O ya, sementara BH-BH itu ada yang kupakai dengan ganjal 2 celana dalam warna putih pada cupnya, sedangkan yang lain kuikatkan di bahu dan leherku. Ampun! Betul-betul mabuk kepayang aku dibuatnya melihat hampir seluruh tubuhku digelayuti benda-benda paling pribadi dari Mbak Lina si cantik nan montok penghuni kos temanku Dudi.

Aku meremas-remas, menggesek-gesek, menciumi dengan gemas kain lembut warna-warni itu, ada rasa yang membuatku melayang-layang, apalagi renda-renda manis celana dalam transparan itu menggelitik mesra kepala
kemaluanku, kadang celana dalam yang kukalungkan pada kemaluanku itu kutarik kuat-kuat hingga tangan dan kemaluanku seolah tarik-menarik dengan seru!

TIBA-TIBA! Ada perasaan geli yang mengalir ke seluruh kontolku, hingga kakiku terjinjit-jinjit dibuatnya, untung tembok di belakangku menahan badanku yang ngeloyor mundur. Kaget bukan alang kepalang aku saat merasa akan kencing tetapi terasa nikmat sekali rasanya! Kaget, karena aku mengira 'ngompol' sehingga aku berusaha menahan cairan yang mau keluar dari
kemaluanku sekuat tenaga, waah! Tetapi justru aku mengejang dengan hebat berkali-kali dan.. "Sroot.. Sroot.. Sroot..!"

Ya ampun! Tak kuasa aku menahan cairan itu keluar, tanganku menekan kuat
kemaluanku yang masih dibalut celana dalam pink itu dan memuntahkan cairan kental warna putih berkali-kali, diiringi lenguhan kenikmatan 'tiada tara'. Lemas, terduduk, berpeluh peluh aku setelah itu, pikiranku yang masih melayang-layang berusaha sadar saat kulihat beberapa celana dalam yang tadinya kusumpalkan pada mulut kemaluanku belepotan cairan putih kental dan berhamburan di lantai! Ternyata tanpa sadar aku melakukan masturbasiku yang pertama dengan stimulus celana dalam dan bra, sungguh benar-benar memberikanku kepuasan yang berlipat.

Selanjutnya setelah otakku kembali normal, seperti orang yang baru terjaga dari mimpi yang indah, aku mulai kebingungan dan ketakutan.

"Astaga, gawat nih kalo ketahuan!".

Takut ketahuan karena celana dalam itu banyak yang basah oleh spermaku, takut karena pada saat itu aku baru saja mengalami yang namanya orgasme dengan keluarnya sperma, aku pikir sperma itu adalah darah putih yang keluar karena
kemaluanku terluka dalam akibat kuremas sejadi-jadinya tadi. Akupun belum pernah merasakan mimpi basah, tentu wajar bukan? Kalau aku ketakutan juga meskipun rasanya enak.

Sungguh pengalaman pertama yang takkan terlupakan, semua perasaan campur baur menjadi satu, hingga menjadi adonan kue yang mempunyai kelezatan tersendiri, yang sampai kapanpun akan membuatku terkenang. Lucu juga kenangan saat membersihkan celana dalam dan BH Mbak Lina yang belepotan spermaku itu dengan sangat berhati-hati, yang sekarang baru aku tahu bahwa sebenarnya itu tidak perlu dikuatirkan, karena setelah beberapa menit, sperma yang kental dengan warna putih itu akan berubah seperti cairan encer yang tak terlihat berwarna.

So kalau yang namanya celana dalam kotor cewek, tentu biasa dong agak terasa lembab, lagian ngapain sih si empunya memeriksa celana dalam kotornya? Baunya sperma? Ah hampir sama juga kok dengan baunya memek, toh kalo dicuci biasanya langsung dimasukkan air sabun! Jadinya nggak akan ketahuan, betul kan?


(Bersambung)